Memilih Jurusan

​Jurusan kuliah di Indonesia cuma ada dua, Teknik dan Kedokteran. Sedari mulai mengajar di bimbel yang numpang tempatnya di sekolah sewaktu kuliah, lanjut ngajar jadi honorer di sekolah swasta, terus megang kurikulum internasional Cambridge IGCSE & A Level, berlanjut ngajar online di zenius dan terakhir megang program alumni, semua murid menjawab sama untuk jurusan kuliah, Teknik dan Kedokteran.
Tidak ada yang salah dengan Teknik dan Kedokteran. Yang masalah adalah, jika kebanyakan orang tidak tahu apa yang akan dipelajari dan tantangan apa yang ada di dua jurusan tersebut. Ada yg masuk Teknik Kimia semata-mata karena suka sekali dengan Kimia. Tapi belakangan menyadari minatnya tersebut ada di jurusan, coba tebak, ya betul Kimia di MIPA. Kenapa memilih Teknik Kimia? Karena passing gradenya lebih tinggi dan lebih prestius.
Ada juga yang memilih kedokteran karena suka sekali dengan genetika molekular dan berniat melakukan riset di bidang genomik. Apa daya di kedokteran genetika diajarkan hanya beberapa SKS, dan jurusan yang kaya dengan pengalaman genetika adalah, coba tebak lagi…, ya betul Biologi di MIPA. Satu lagi, satu orang tertarik dengan kompleksitas ekomoni beserta filosofi free market atau sentralisasi. Pilihan kuliah? Akuntansi. Kenapa bukan Ekonomi murni? Tidak terlalu prestisius di kalangan bimbel dan sekolah dibanding Akuntansi.
Pola pikir bifurkasi minat ini membuat fenomena aneh di Indonesia. Jurusan pertanian yang bekerja di perbankan. Jurusan teknik mesin yang aktif berkarya di pengajar musik. Lulusan sastra Belanda yang berkarir di bidang HRD. Dan lulusan Biologi yang aktif di programming data sains serta bioinformatika (masih nyambung ko, masih #MembelaDiri).
Kebanyakan, proses pemilihan jurusan didasarkan pada 3 hal:
1. Gengsi dan prestisiusnya jurusan tersebut di mata teman-teman dan sekolah. Makin sulit masuk, makin tinggi gengsi yg didapat. Apalagi di umur di mana pengakuan dari lingkaran sosial sekitar sangat besar.  Upaya dilakukan secara serius untuk melanjutkan pendidikan di jurusan tersebut.Masalah nanti belajarnya apa? Atau kiat suka atau tidak? Itu masalah lain. 
2. Pilihan Orang tua. Klise memang, walau semakin ke sini sudah banyak orang tua yang tidak memaksakan kehendak. Masalah timbul sebenarnya bukan karena orang tua, tapi karena kemandirian pengambilan keputusan oleh anak2 diragukan oleh orang tua. Rekam jejak anak2 yg labil membuat orang tua was-was, apakah jurusan yg diambil tidak berubah di tengah kuliah? Apakah nanti anaknya tidak kecewa gajinya berbeda dengan teman2nya yang kuliah di jurusan top? Apakah anak ku alien? Dan sebagainya…
3. Asal bisa masuk kampus  “itu”. Kata “itu” bisa diganti dengan UI, ITB, UGM, UNPAD, UNDIP  atau United Nation sekaligus UN.  “Yg penting Itebeh, ngeper kabeh deh”, “Akhirnya pake jaket kuning, kaya Golkar aja”, “Asik bisa kuliah di Bulaksumur, ga lagi gali sumur” dll. Jurusan yg dipilih yg gampang masuk karena passing gradenya rendah. Mau minat apa engga, ya ga tau. Yg penting bisa maen2 ke ade2 SMA sambil pake jaket almamater.
Tiga hal itu biasanya akan berujung pada: 
Kesulitan sintas atau survive di tahun pertama kuliah, apalagi klo jurusan yg dimasukin diisi sama dosen-dosen bagus yg fokusnya riset. Mereka biasanya  tidak peduli mahasiswa mengerti materi di kelas atau tidak. Sudah mahasiswa, harus bisa belajar sendiri dengan buku dan materi online learning dan perpustakaan sudah berlangganan jurnal.  Ditambah teman-teman kuliah yg kelihatan ambisius, mau lulus 4 tahun, summa cum laude dan incer beasiswa sekaligus sampai program PhD. Bikin peer pressure tambah berat.
Kehilangan motivasi kuliah ke kampus. Biasanya karena keinginan yg menggebu-gebu akan pengakuan temen-temen, hilang di tahun pertama. Tiap teman tidak peduli kita kuliah di mana, mereka sendiri disibukkan dengan materi kuliah. Harihari penuh dengan baca jurnal, nulis laporan, ikut mata kuliah yg  bobotnya 1 sks tapi praktikumnya ampe maghrib. Dateng kuliah cuma karena pengan gaul ama temen2 angkatan dan lulus mata kuliah sekedar dapet nilai lulus. 
DO atau gagal di tahap akhir skripsi. Penelitian akhir itu mirip necessary evil, ada yg udah tau gimana lakukan riset karena sering ikut proyek dosen, tapi harus nulis skripsi. Ada juga yg emang kebiasaan tengok kiri kanan pas ujian dan ga mudeng apa-apa pas nyusun proposal penelitian. Semua itu diperparah klo emang ga suka jurusan yg kita ambil dari awal. Skripsi bersinonim dengan Sado masokis, nyakitin tapi pada lakuin. Klo ga kuat, dan emang ga suka pilihan jurusan, biasanya berakhir DO, atau pindah kampus dengan transfer SKS.
Solusi dari masalah-masalah di atas, ada pada tahap awal sebelum masuk kampus. Waktu belajar SMA yg padet dan ga membuka ruang eksplorasi biasanya membuat kita ga bisa berpikir luas. Informasi terbatas dari senior atau info “katanya”. Waktu dari selesai Ujian nasional sampe pemilihan jurusan mepet. Kita dipaksa untuk nentuin jurusan yang bisa jadi nentuin gimana kita 10 sampe 20 tahun kedepan dalam 2 bulan. 
Yang ada di pikiran selama ini adalah gabungin pengalaman waktu backpacker keliliang ASEAN dan pengalaman interaksi sama anak2 SMA selama 10 tahun terakhir.  Anak-anak SMA di luar punya kultur, berkeliaran dulu sebelum masuk College atau Universitas. Ada yg backpacking  ke mana-mana, kerja sambilan, ikut misi kemanusiaan, belajar musik, belajar hal yg ga mereka bisa lakuin karena waktu SMA ga sempet. Ada juga yg banyakin bacaan dan nonton film yg banyak.  Semua itu tradisi untuk istirahat berpikir jernih nentuin jalan ke depan.
Idenya adalah, 

“Bagaimana kalau anak2 yg baru lulus SMA diberi tantangan untuk membuat life project?”
Life project dimulai dari eksplorasi minat dengan banyak bacaan, film, diskusi dan debat serta kunjungan ke beberapa tempat. Tahap pertama ini bertujuan supaya mereka menemukan masalah di dunia atau sekitar mereka yg layak untuk dipecahkan. Masalah yg timbul bisa saja yang terkesan biasa atau bombastis sekaligus. Tidak ada batasan untuk kreativitas.
“Gw mau supaya kanker musnah”

“Gimana klo gw selesain masalah populasi dengan bikin koloni di Mars?

“Pengen bikin App yang selesain masalah macet di Jakarta”
Dari masalah yang ada, mereka dibimbing untuk melihat skills atau keahlian apa saja yang diperlukan?  Dan jurusan atau universitas mana yang bisa memberikan keahlian tersebut? Berlanjut, mata pelajaran apa yang mendukung untuk meningkatkan pemahaman untuk masuk ke kampus tersebut. Mereka dibimbing untuk membuat alur perjalanan dan kerja, waktu, permasalahan dan alternatif layaknya yang dikerjakan oleh orang2 di Project Management.
Kalaupun di tengah jalan goal  untuk proyek mereka sulit diraih. Mereka akan belajar bagaimana membuat alternatif atau jalan putar untuk mencapai ultimate goal. Di tengah perjalanan mencari obat kanker mereka bisa jadi akan belajar bagaimana sel mencapai status immortal. Atau dalam proses mencari solusi macet, mereka belajar bahwa Political Science tidak melulu politik yang ditayangkan di TV. Dan lagi diharapkan ga ada lagi kata-kata 
“Yang penting Elektro IteBeh”, Atau “Klo ga kedokteran UI ga mau!”. Belajar untuk mencari alternatif, bukan fokus pada label jurusan dan kampus, tapi apa yg mau dilakukan di sana.
Ditambah lagi, proses belajar untuk masuk kampus tidak lagi berorientasi cara-cara cepat, bocoran, trik-trik soal dan drilling soal tanpa makna. Tapi mendalami keahlian dan penguasaan bidang pelajaran yang nanti menjadi bekal di kampus. Masuk kampus dengan jurusan tertentu, bukan lagi menjadi tujuan utama, melainkan tahap pertama untuk menyelesaikan life project mereka.
Karena belajar adalah sepanjang waktu, bukan hanya di sekolah dan kampus.
http://www.akademos.club

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s