

Pagi itu aku sudah berniat untuk tidak shalat berjamaah di masjid, baik shalat dhuhur maupun shalat ashar, soalnya malam itu aku muntah-muntah (jadi ada uzur kan, alasanku dalam hati). Tentu saja hari itu aku memang tidak masuk kerja. Ketika sedang enak leyeh-leyeh di tempat tidur, pukul 11, ada telpon dari pegawai sebuah instansi yang menjadi client. “Pak Oktovan diminta datang jam dua siang, karena Dirjen mau lihat aplikasi yang dibuat” ujarnya. “Tapi pak, saya sedang di rumah, sakit”, alasan saya. “Iya pak, maaf, tapi dirjen mintanya mendadak, tolong ya pak tinggal selangkah lagi”, bujuknya. Waduh, batin saya. Akhirnya dengan badan limbung, perasaan ga karuan, pukul 12.30, setelah shalat dhuhur, kupacu fit-x ku menuju kantor. Dalam perjalananan aku merenung. Kenapa ya, tadi aku berniat untuk tidak shalat jamaah di mesjid yang jaraknya hanya 200M, sementara ketika dirjen memanggil, aku tidak dapat membantah padahal jaraknya lebih 20KM?! Betapa bodohnya aku. Tuhan yang menciptakanku, yang memberi napasku, dan segala kebutuhanku, tetapi panggilannya aku remehkan, sementara panggilan dirjen begitu aku takuti. Wahai Tuhan ampuni hamba ini.
Ya Allah, Engkau Tuhanku, Yang Menciptakanku, dan aku hamba-Mu, lindungi aku dari keburukannku. Aku akui nikmat-Mu padaku dan aku akui kesalahanku, maka ampunilah aku, karena tiada yang dapat mengampuni kecuali Engkau Amin



menyentuh sekali Akhi…jazakallah khoiron..nasihatnya…..
Sama-sama bung Fajar. Salam Kenal juga.