Ketika janin manusia berumur 120 hari, maka ditentukan 4 hal yaitu rezeki, jodoh, usia, dan takdir baik dan buruknya. Dua tulisan sebelumnya sudah membahas mengenai Rezeki dan Usia. Cukup banyak komentar sampai ada yang menuduh bidah segala di sebuah milis. He..he..he.. kalem bro, you just don’t get the point. Baca sekali lagi, pahami, adakah yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits?
Sebelumnya saya akan menceritakan sebuah kisah, yaitu ketika kafilah Umar bin Khattab akan memasuki sebuah daerah, dimana di daerah tersebut sedang mewabah suatu penyakit menular, maka Umar bin Khattab urung memasuki daerah tersebut. Seorang sahabat lainnya protes : “Hai Umar, apakah engkau hendak lari dari takdir Allah”. Umar menjawab : “Aku lari dari takdir Allah yang satu menuju takdir Allah yang lain”. Hal ini menunjukan Allah, dengan ke Maha Adil annya, tidak hanya menetapkan satu Takdir untuk seseorang. Kalau Allah hanya menetapkan satu takdir maka orang akan cenderung menyalahkan Takdir, bukan menerima Takdir. Padahal Takdir mesti diterima apapun keadaannya. Musibah musti diterima sebagai Takdir peringatan atau ujian. Peringatan bagi mereka yang masih disayang Allah tapi terlena dalam kemaksiatan, Ujian untuk menguji tingkat keimanan seseorang.
Dari uraian di atas, sekali lagi saya mencoba mengajukan dugaan bahwa ketentuan Takdir tidak ditulis tanpa kondisi, tapi ditulis dengan kondisi, seperti contoh di bawah ini:
“Wahai fulan bin fulan, pada tanggal dd-mm-yyyy, anda akan mengalami kecelakaan patah tangan dan kaki, tapi kalo anda bersedekah sehari sebelum tanggal itu, anda tidak akan apa-apa pada kecelakaan itu”
Coba simak hadits ini dan ini, apakah ketentuan di atas bertentangan atau malah saling mendukung?
Leave a Re










