Ketika janin manusia berumur 120 hari, maka ditentukan 4 hal yaitu rezeki, jodoh, usia, dan takdir baik dan buruknya. Bagaimana sebenarnya memahami hadits di atas untuk kita pergunakan menjalani kehidupan ini? Baiklah sebelumnya saya akan memberikan kisah nyata seorang Bapak.
Sebut saja Pak Bedu. Tinggal di daerah Babelan, Bekasi. Pada awalnya beliau bekerja sebagai karyawan. Sampai suatu ketika datanglah sekelompok jamaah pengajian yang mabid di masjid dekat rumahnya. Seperti biasa selalu ada pertemuan antara jamaah yang datang dengan penduduk setempat, salah satunya Pak Bedu ini. Tidak ada penduduk lokal yang bergabung dengan jamaah tersebut, kecuali Pak Bedu ini. Semenjak bergabung, segalanya mulai berubah. Pak Bedu tidak lagi fokus ke pekerjaannya, hingga ia dipecat. Pak Bedu menjadi pengangguran, tapi ia tidak khawatir, karena dia yakin bahwa rezeki itu sudah ada yang ngatur. Hari hari pun berlalu, keuangan semakin menipis sementara pemasukan tidak ada. Rumah dalam pengawasan bank. Barang-barang dijual. Namun demikian Pak Bedu masih menyempatkan diri untuk menjadi sukarelawan di daerah gempa. Sementara istri dan anaknya yang juga membutuhkan bantuan dipasrahkan kepada Allah SWT. Pak Bedu sangat yang yakin bahwa rezeki sudah ada yang ngatur. Kita pun juga musti yakin bahwa rezeki sudah ada yang ngatur. Tapi bagaimana rezeki itu diatur?
Kita tidak sedang menghakimi benar tidaknya tindakan Pak Bedu, tapi marilah kita merenung, berpikir dan bertafakur bagaimana rezeki itu diatur?
Saya mengajukan 2 dugaan bagaimana rezeki diatur, yaitu:
1. Ketentuan tanpa Kondisi, bunyinya kira-kira seperti ini:
“Buat fulan bin fulan, rezeki anda seumur hidup adalah X. Tidak peduli usaha apa yang anda lakukan”.
atau
2. Ketentuan dengan kondisi, bunyinya kira-kira seperti ini:
“Buat fulan bin fulan, jika anda melakukan usaha A, maka rezeki anda adalah X, jika usaha B maka rezeki anda adalah Y, dan jika usaha C maka rezeki anda adalah Z…” dan seterusnya bisa lebih panjang dan kondisi yang lebih rumit.
Menurut anda, mana dari kedua ketentuan itu yang lebih mendekati makna ayat ini:
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Rad:11)
Saya berpendapat bahwa ketentuan no 2 lebih mendekati makna ayat tersebut yang merupakan kalimat kondisi. Itulah makanya kita dianjurkan untuk shalat istikharah apabila menghadapi pilihan hidup yang rumit.
Wallahulam bisshowab











Boleh bang ai tambahkan man ? bang ai sepakat dgn aturan no 2 dgn kombinasi kemungkinan yg tidak terhingga, oleh krn itulah kita harus sering-2 mengucapkan ihdinashiratal mustaqiim, agar kita ditujukan mana jalan kemungkinan yg memberikan dampak positif dunia dan akhirat paling tinggi. Dan semua kombinasi kemungkinan tersebut kemungkinan juga sudah tertulis di lauhtul mahfudz. Wallahu’alam bishowab.
ada makna tersirat dibalik tulisan ini, yaitu “Kapan dapet bonus lagi ya..??” hehehe
[...] rezeki, jodoh, usia, dan takdir baik dan buruknya. Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas Bagaimana rezeki diatur? . Selanjutnya kita akan membahas bagaimana usia [...]
Saya cenderung pada ketentuan yang pertama. Dalam banyak ayat Alah menjelaskan bahwa dialah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki. Rezeki sendiri berasal dari kata razaqa yang artinya a’tha (pemberian). BUkti empiriknya adalah tidak semua orang yang berusaha untuk mendapatkan rezeki mendapatkannya. Ada orang yang sudah bersusah payah mendapatkannya tapi tidak memperoleh rezeki yang diharapkannya. sementara ada orang yang tidak mengerahkan usaha sebegitu rupa tapi mendapat rezeki. Anak kecil yang belum baligh mereka tetap mendapatkan rezeki meskipun mereka tidak bekerja. Demikian halnya para ibu juga mendapatkan rezeki kendati tidak bekerja.
lalu bagaimana kedudukan usah manusia?
Kedudukan usaha manusia adalah hal yang terpisah dari persoalan rezeki. Usaha manusia seharusnya dipandang sebagai perwujudan pelaksanaan perintah Allah, sebagaimana firman Allah bahwa jin dan mansia diciptakan untuk menghamba kepapdaNya.
Orang yang tidak bekerja (khususnya laki-laki), bermalas-malasan, mereka akan tetap mendapatkan rezeki, tetapi dia menanggung dosa karena menyia-nyiakan perintah Allah untuk mencari rezeki.
And toh ketika seseorang mendapatkan rezeki tidak berarti persoalan selesai. Tetapiada kewajiban untuk menafkahkan nya di jalan yang diridhai Allah.
Kalau kita kaji lebih mendalam ketentuan pertama dan kedua pada tulisan di atas maka, kalau boleh dapat diuraikan dengan teori matematis sebagai berikut ;
Ketentuan tanpa Kondisi, maka akan muncul teori hukum Kekekalan Rezeki dimana ;
Jika, Rezeki = R
Takdir = T
Maka akan dapat dirumuskan (R = T)
sehingga apapun usaha kita kalau kita kalau kita ditakdirkan kaya ya pasti kaya, kalau miskin ya pasti miskin kalau perlu plus 7 turunan.
Keadaan ini akan memunculkan golongan orang pemalas yang sangat dibenci Allah SWT, dimana baik didalam Al-Quran maupun Al-Hadis Nabi Muhammad SAW senantiasa Allah SWT memerintahkan hambanya untuk mencari rezeki yang Allah SWT tebarkan di permukaan bumi, bahkan binatang harimau sekalipun harus berburu untuk mendapatkan mangsa supaya tidak kelaparan, saya belum pernah dengar ada seekorpun binatang yang mau meyerahkan dirinya secara sukarela untuk dimangsa lantaran sang harimau mendapat gelar Raja Hutan, kecuali binatang sinting yang bosan hidup.
Kemudian ketentuan dengan kondisi, maka akan muncul teori Relatifitas Rezeki dimana ;
Jika, Rezeki = R
Penghasilan = P1
Pengeluaran = P2
Maka akan dapat dirumuskan R = P1 : P2
sehingga rezeki kita ditentukan bagaimana cara kita berusaha serta mengatur antara penghasilan dan pengeluaran.
Keadaan ini akan memunculkan golongan orang yang qufur nikmat yang sangat dibenci Allah SWT juga, seolah segala rezeki yang didapat murni usaha dia sebagai manusia dan hanya sedikit atau tanpa sama sekali bantuan Allah SWT, jadilah dia pengikut mashab Qorun di neraka.
Lantas kesimpulannya mana yang benar kalau keduanya salah ,,,,,,,,,, !
Muncullah kondisi ketiga, dimana kalau kita pernah mendengar “Bekerjalah untuk duniamu seolah kau akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seolah kau akan mati esok” inilah yang benar, dimana manusia hanya wajib berusaha dan berdo’a sementara segala hasilnya baru kita serahkan kepada Allah SWT, dimana dapat dirumuskan ;
1 + 1 = ~ artinya, berusaha + berdo’a = tidak terhingga.
Kenapa bisa tidak terhingga, karena sampai detik menulis huruf terakhir pada tulisan ini saya tidak sanggup menghitung berapa banyak rezeki yang Allah SWT limpahkan pada saya, dimana saya beranggapan bahwa rezeki itu tidak selalu identik dengan materi kebendaan, setiap helaan nafas, denyutan nadi, detakan jantung serta derasnya aliran darah merupakan rezeki Allah SWT.
Berapa banyak orang kaya raya yang terkurung dalam terali besi, atau berbaring berhari-hari menanti ajal yang tak kunjung datang di rumah sakit.
Sementara berapa banyak pemulung miskin yang hanya membawa sebungkus nasi sisa yang dipungut dari tong sampah untuk dibagi bersama istri dan anak-anaknya, yang penuh rasa syukur tak terhingga atas segala yang Allah SWT berikan pada mereka walaupun hanya sebungkus nasi sisa yang hampir basi.
Semoga tulisan ini dapat kita jadikan bahan renungan bersama
“AMIN AMIN YA RABBAL ALAMIN,,,,,,,,,,,,,”
Bung Darmanto, sebenarnya pada ketentuan no 2 saya ingin mengatakan bahwa:
“Manusia itu hidup diberikan Tuhan lebih dari satu pilihan, namun semua pilihan itu sudah tercatat sebagai bagian dari Ketentuan. Karena kalo manusia cuma diberikan 1 pilihan, maka manusia kalo ia salah, ia akan menyalahkan Tuhan yang hanya memberikannya satu pilihan, tapi kalo manusia diberikan lebih dari 1 pilihan, maka kalo ia salah ia akan menyalahkan pilihannya, dan berusaha memperbaiki pilihannya (kalo masih ada waktu). Dengan demikian manusia akan belajar menerima Ketentuan daripada menyalahkan Ketentuan”
Maaf kalau boleh mengutip penjelasan Mas Oktavan dimana “Manusia itu hidup diberikan Tuhan lebih dari satu pilihan, namun semua pilihan itu sudah tercatat sebagai bagian dari Ketentuan. Karena kalo manusia cuma diberikan 1 pilihan, maka manusia kalo ia salah, ia akan menyalahkan Tuhan yang hanya memberikannya satu pilihan, tapi kalo manusia diberikan lebih dari 1 pilihan, maka kalo ia salah ia akan menyalahkan pilihannya, dan berusaha memperbaiki pilihannya (kalo masih ada waktu). Dengan demikian manusia akan belajar menerima Ketentuan daripada menyalahkan Ketentuan”.
Permasalahannya kemudian akan berkembang dalam 2 pertanyaan ;
Pertama, sejak kapan pilihan itu mulai di berikan ?
Kedua, ada berapa banyak pilihan dalam hidup kita ?
Kalau memang benar hidup ini adalah pilihan, pastinya tidak ada bayi yang terlahir kemudian dibuang di tong sampah, sang jabang bayi kalau boleh memilih maunya minta dilahirkan sebagai anak orang kaya di rumah sakit yang mewah dengan segala fasilitas yang memanjakan sang jabang bayi.
Bersyukurlah kita pada Allah SWT, karena kita sampai dengan hari ini dalam keadaan serba kelapangan dengan berbagai macam pilihan. Namun bilamana kita melongok ke balik jeruji besi atau ke lokalisasi porostitusi, tidak ada satu orangpun diantara mereka yang berkeinginan jadi penjahat atau pelacur, namun kondisi serba kesempitan saat itulah yang mengharuskan mereka menjadi penjahat atau pelacur.
Latar belakang ekonomi dan pendidikan mereka yang memaksa mereka untuk melakukan pilihan yang menurut kita salah, lalu dikapan kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki pilihannya jawabanya (kalau masih ada waktu).
Kalau memang itu jawabanya alangkah egoisnya kita !
Pastinya kalau mereka dilahirkan sama halnya dengan kita tidaklah mungkin mereka jadi penjahat atau pelacur, mungkin mereka akan bersama kita bercerita dibalik monitor computer bahwasanya hidup ini adalah pilihan, serta menafsirkan Hadis “Ketika janin manusia berumur 120 hari, maka ditentukan 4 hal yaitu rezeki, jodoh, usia, dan takdir baik dan buruknya.” pastinya mereka akan mengamini semua argumentasi kita yang menafsirkan hadis sedemikian sempit dan dangkalnya.
Bung Darmanto,
Bagaimana seandainya kita bertanya ke seorang pelacur dengan pertanyaan: “Mengapa anda menjadi pelacur?” Maka pelacur itu menjawab : “Wah gimana ya, ini satu-satunya jalan hidup yang ditentukan Tuhan untuk saya, saya tidak punya pilihan hidup lain”.
Bagaimana menurut bung Darmanto mengenai jawaban pelacur tersebut?
bahasa Tuhan : rejeki itu sudah fixed.
bahasa manusia: semua lewat proses sebab akibat.
masalah ketetapan nasib itu bahasa tuhan, biarkan saja, kita tinggal meyakini.
masalah kita adalah, berproses hingga pada akhirnya kita tahu, nasib kita seperti apa